Minggu, 22 April 2012

Filsafat Islam Al-farabi


Tokoh  Filsafat Islam
AL-FARABI
A. Biografi
Nama lengkap Al-Farabi adalah Abu Nashr Muhammad Ibn Muhammad Tarkhan Ibn Auzalagh yang sisingkat menjadi Al-farabi, (di nisbatkan kepada kota kelahirannya). Ia dilahirkan di Wasij, distrik farab, Turkistan pada tahun 257 H/870 M. ayahnya seorang jendral kebangsaan Persia dan Ibunya berkebangsaan Turky.
Pada usia 40 tahun, Al-Farabi pergi ke Baghdad. Baghdad pada saat itu menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan dunia. Ia belajar kaidah bahasa Arab pada Abu Bakar Al-SAraj dan belajar logika kepada orang Kristen, kemudian ia pindah ke Harran. (pusat kebudayaan Yunani) dan berguru pada Yohana Ibnu Jailan, tetapi dia kembali ke Baghdad untuk memperdalam ilmu filsafat pada tahun 330 H / 945 M ia pindah ke Damaskus dan mendapatkan kedudukan yang baik, akhirnya pada bulan desember 640 M Al-Frabi meninggal dunia di Damaskus dalam usia 80 tahun.
Al-farabi banyak memehami filsafat Aristoteles sehingga dia di juluki Al-Mu’allim Al-Awwal (guru pertama)sehingga tidak mengherankan jika Ibnu Sima, yang menyandang predikat Al-Syaikh Al-rais (kiyayi pertama), mendapatkan teori dalam memahami filsafat Aristoteles dari suku Al-farabi. Dalam dunia intelektual Islam mendapat kehormatan dengan julukan Al-Mu’allim Al-Sany (guru kedua).

B. Karya Tulis Al-farabi.
Karya-karya Al-farabi diantaranya :
Ø  Syuruh risalah Zainun Al-Kabir Al-Tunani.
Ø  Al-Ta’liqat.
Ø  Risalah Fima Yajbu Ma’rifat Ta’alumni al-Falsafah.
Ø  Lyun Al-Masa’il.
Ø  Ara’ Anl al-Madinah Al-Fadhillah.
Ø  Maqalat fi Ma’ani Al-Aql.
Ø  Fushl Al-Hukm.
Ø  Risalah Al-Aql.
Ø  Al-Siyasah Al-Madaniyah.
Ø  Al-Masai’l Al-Falsafiyah wa Al-Ajwibah Anha.
Ø  Al-Ibanah’an Ghardi Aristo fi kitabi ma ba’dal al Thabiat.

C. Filsafatnya
*      Rekonsiliasi Al-Farabi.
Al-Farabi berhasil merekonsiliasikan antara filsafat yang berkembang sebelumnya terutama pikiran Plato, Aristoteles, dan plotinus, juga antara agama dan filsafat. Karena itu dia dikenal sebagai filosof sinkretisme yang mempercayai kesatuan filsafat. Dalam ilmu logika dan fisika dipengaruhi oleh Aristoteles, ilmu akhlak dan politik dipengaruhi oleh Plato, sedangkan dalam bidang metafisika dipengaruhi oleh Plotinus.
Semua aliran filsafat tidak ada mencari perbedaan, kalau berbeda, hanya pada lahirnya. Upaya terealisasikan ketika mendamaikan pemikiran Aristoteles dengan Plato antara filsafat dan agama. Cara Al-farabi memadukan antara pemikiran kedua filosof itu dengan mengajukan pemikiran masing-masing yang cocok dengan pemikirannya seperti tentang ide yang menjadi hal mendasar antara Plato dan Aristoteles. Menurut Plato alam ini hanya ada dalam pikiran, sedangkan menurut Aristoteles mengakui adanya ide dan berdiri sendiri.
Untuk mempertemukan kedua filosof ini, Al-Farabi menggunakan interpretasi batin dengan menggunakan ta’wil bila menemukan perbedaan-perbedaan. Al-farabi menjelaskan bahwa Aristoteles mengakui alam rohani yang terdapat diluer alam ini, dan alam rohani tidak bis dita’wilkan. Jadi kedua filosof tersebut saa-sama mengakui adanya ide pada zat Allah.
*      Ketuhanan.
Dalam pembahasan tentang ketuhanan Al-Farabi mengelompokkan pemikran antara filsafat Aristoteles dengan Neo-Platonisme yakni Almaujud, Al awwal (wujud pertama / Tuhan) sebagai sebab pertama dari segala yang ada. Yang tidak bertentangan dengan konsep ke-Esaan Allah dalam Islam.
Al-Farabi dalam membuktikan Allah, megemukakan dua dalil yaitu tidak ada kemungkinan dalil yang ketiga. Dalil ini adalah:
1.  Wajib al wujud adalah :  wujud yang tidak boleh tidak mesti ada, ada dengan sendiri yang menghendaki wujudnya. Esensinya tidak dapat dipisahkan dari wujud. Ia ada dengan sendirinya dan selamanya, tidak didahului oleh tiada, jika wujud-Nya tidak ada akan timbul kemustahilan karena wujudnya lain kerena dirinya, wujud ini disebut juga Allah.
2.  Mukmin al wujud : wujud yang tidak menimbulakan kemustahilan yang menguatkan wujud ini bukan dirina tapi wajib al wujud  (Allah). Contohnya : wujud cahaya tidak ada tanpa wujud matahari, sedangkan cahaya bisa wujud dan bisa tidak wujud  (mungkin al wujud). Karena cahaya sudah wujud maka cahaya menjadi wujud keniscayaan , wujud ini merupakan bukti bahwa Allah itu ada (wajib al wujud).
Tentang sifat Allah, Al-Farabi sepakat dengan Muta’zilah yakni sifat Allah tidak berbeda dengan zat-Nya. Jika sifat Allah itu di beri wujud tersendiri, maka akan berbeda dengan zat Allah itu. Untuk meyakini esensi wujud Allah tidak perlu menambahkan sifat-sifat tertentu pada Allah. Allah adalah wujud yang sempurna,pengetahuan tentang Dia adalah pengetahuan yang paling sempurna.
*      Emanasi.
Teori emanasi adalah teori yang menjelaskan tentang bagaimana terjadinya yang banyak dari yang satu. Teori ini merupakan gabungan dari teori Aristoteles dan Platnus. Yang digambarkan sebagai berikut :
Tuhan adalah wujud pertama, yang dipikirkan adalah dirinya sendiri. Dia berfikir dan yang dipikirkan dengan jalan ta’qul. Mulailah ciptaan Tuhan dengan melimpahkan emanasi sebagai berikut :
Ø  Wujud I berfikir tentang diri-Nya, timbul wujud II yang disebut akal.
Ø  Wujud II berfikiran tentang wujud I (Tuhan) timbul wujud IIII / akal II, tentang diri-Nya terpancarlah langit pertama.
Ø  Wujud III / akal II berfikir tentang Tuhan, timbul wujud IV /akal III tentang diri-Nya. Terpancarlah genteng dan atap.
Ø  Wujud IV / akal III berfikir tentang Tuhan timbul wujud V / akal IV tentang diri-Nya terpancarlah planet Saturnus.
Ø  Wujud V / akal IV berfikir tentang Tuhan timbul wujud VI / akal V, tentang diri-Nya terpancarlah planet Yupiter.
Ø  Wujud VI / akal V berfikir tentang Tuhan timbul wujud VII / akal VI, tentang diri-Nya terpancar planet Mars.
Ø  Wujud VII / akal VI berfikir tentang Tuhan timbul wujud VIII / akal VII, terntang diri-Nya terpancarlah Matahari.
Ø   Wujud VIII / akal VII berfikir tentang Tuhan timbul wujud IX / akal VIII, tentang diri-Nya muncullah Uranus.
Ø  Wujud IX / akal VIII berfikir tentang Tuhan timbul wujud IX / akal X, tentang diri-Nya terpancarah planet Bulan.
Ø  Wujud X / akal IX berfikir tentang Tuhan timbul wujud XI / akal XI tentang diri-Nya mucullah planet Bulan.
Wujud XI tidak lagi menimbulkan wujud lain, tetapi dari akal X timbullah jiwa, bumi dengan materi utamanya yaitu unsur api, udara, air dan tanah.
Struktur Emanasi Al-farabi dipegaruhi oleh temuan lain pada masa itu yaitu ditemukannya sembilan planet dan satu bumi. Karena itu dia membutuhkan 10 akal, setiap satu akal mengurusi satu planet dan satu bumi.
*      Teori Kenabian.
Filsafat kenabian Al-Farabi erat hubungannya Nabi dan Filosof dalam kesanggupan mengadakan komunikasi dengan akal fa’al (akal kesepuluh) walaupun ada perbedaan dalam kominikasi.
Persamaan, sama-sama menerima pancaran ilmu dan akal kesepuluh (fa’al). Sedangkan perbedaannya, filosof memperoleh kebenaran melalui akal dan latihan. Sedangkan Nabi dan Rasul dengan wahyu, imajinasi  kuat dari Allah yang mengarah pada tujuan tertentu. Contohnya : Nabi Muhammad mempunyai daya imajinasi yang kuat sebelum dipilih menjadi Nabi.
Jadi ciri khas seornag Nabi menurut Al-Farabi yaitu memiliki daya imajinasi yang kuat dan dapat berhubungan dengan akal fa’al, dan menerima ajaran dalam bentuk wahyu yang dilimpahkan Allah melaluiakal fa’al, menrut Al-Farabi akal fa’al adalah Jibril. Filosof berkomunikasi dengan Allah melalui akal perolehan yang dilatih kuat, dengan usaha sendiri melalui pemikiran. Oleh karena itu, setiap Nabi adalah Filosof dan tidak setiap Filosof adalah Nabi. Tapi Fiosof tidak akan menjadi Nabi, selamanya Nabi tetap manusia biasa.
*      Negri Utama ( Ara’ Al-Madinah Al-Fadhilan ).
Pemikiran Al-Farabi tentang negri utama dipengaruhi oleh pemikiran Plato yang menyamakan negara dengan tubuh manusia yang terdiridari kepala, kaki, tangan dan anggota tubuh lainnya yang mempunyai fungsi tertentu.
Dalam tubuh manusia yang amat penting yaitu, kepala (otak) karena dari kepala setiap perbuatan manusia dikendalikan, dan yang mengendalikan kerja otak yaitu hati. Demikian juga negara.
Menurut Al-Farabi yang paling penting dari negara yaitu pemimpin atau penguasa bersama dengan bawahannya. Demikian juga jantung dan organ tubuh yang lebih rendahberturut-turut. Seorang pemimpin haruslah yang paling unggul baik dalam bidang intelek diantara yang ada.
Kepala negara harus mempunyai akal tingkatan ketiga (‘aql almustafaa) agar bisa berkomukasi dengan akal kesepuluh. Jika tidak ada Nabi yang menjadi kepala negara, maka dapat digantikan oleh orang yang  menjadi kepala negara, maka dapat di gantikan oleh orang yang dianggap memiliki sifat Nabi, yaitu filsuf. Rakyat harus bekerja sesuai dengan kemampuan masing-masing untuk kepentingan bersama.
Al-Farabi menyebutkan bahwa kepala yang memimpin negara utama atau bahagia itu sekaligus seorang guru, pemimpin dan pengelola karena tidak semua orang secara fitri mengetahui tentang cara mencapai kebahagiaan, dan tidak semua orang mmengerti tentang hal-hal yang harus diketahui. Pemikiran Al-Farabi tentang kenegaraan tersebut terkesan ideal sebagaimana hanya konsepsi kenegaraan yang ditawarkan oleh Plato. Hal ini dimungkinkan, Al-Farabi tidak pernah memangkusuatu jabatan didalam pemerintahan ia lebih menyenangi menyendiri sehingga ia tidak mempunyai peluang untuk belajar dari pengalaman dalam ursan kenegaraan.



Filsafat Islam Al-Ghazali


Filsafat Islam AL-GHAZALI
by: Ihsan CoLanK

A. Riwayat Al-Ghazali
Al-Ghazali dilahirkan pada tahun 1059 M di Ghazal, Thus, Prppinsi Khurasan Republik Islam Iran. Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad Ibnu Muhammad Ibn Ahmad Al-Ghazali Al-Thussi. Sebutan Al-Ghazali di ambil dari kata-kata “Ghazalah” yakni nama kampung kelahiran Al-Ghazali, dan kadang pula diucapkan dengan lafaz Gazzalah yang berasal dari kata Ghazal yang artinya pemintal benang karena orang tua Al-Ghazali adalah seorang pemintal benang wol.
Ayahnya merupakan seorang sufi yang berketurunan Farsi yang shaleh, dan meninggal ketika Al-Ghazali masih kecil. Guru pertama Al-Ghazali bernama Ahmad bin Muhammad Al-Razakani Thusi.
Ia belajar ke Jurjan dan Nisyapur. Dan di Nisyapur ini ia belajar dengan Imam Al-Juaini (imam Haramaini). Kemudian pada usia 29 tahun ia bermukim di Muaskar (Asrama Tentara) selama 5 tahun di Ba’dad, dan di Ba’dad ini pula 5 tahun  berikutnya Al-Ghazali menjadi guru besar di madrasah Nizhamiah Ba’dad, serta belajar filsafat dan menunjukkan keseriusannya mempelajari filsafat sehingga ia menulis buku tentang maqasid falasifah sesuai dengan pemahamannya dan menunjukkan kemampuannya mengkritik para filosof dengan ketidak konsistenan para filosof.
Kemudian Al-Ghazali juga pernah mengalami kegoncangan jiwa, konflik bathin, krisis rohani, karena keragu-raguannya yang menyangsikan ma’rifah baik secara empiris ataupun rasional. Ia menderita sakit selama 6 bulan, sehingga dokter kehabisan daya untuk mengobatinya. Kemudian ia menanggalkan semua jabatan yang disandangnya, dan mengembara ke Damaskus ia mengisolasi diri untuk beribadah, komplentasi dan sufisti (melepaskan semua kegoncangan jiwanya dengan tasauf).
Al-Ghazali digelari dengan Hujjatul Islam karena pembelaannya yang mengagumkan terhadap agama Islam terutama terhadap serangan kaum bathiniah dari para filosof.
B. Hasil karyanya
Ø Ihya’ Ulumuddin, berisikan kumpulan pokok-pokok agama dan aqidah-aqidah suluk.
Ø Al-Iqtishad Fil-I’tiqad, diuraikan dalam bentuk aqidah Asy’ariah.
Ø Maqasid Falasifah, berisikan ilmu mantiq, alam dan ketuana.
Ø Tahafut Al-Falasifah, berisikan kritik terhadap filosof.
Ø Al-Mungqis min Dhalal, ilmu-ilmu yang mewarnai di zamannya, yang dipaparkan dalam bentuk kritik.
Ø Mizan Al-Amal yang berisikan penjelasan tentang akhlak.
Dari paparan diatas dapat diliat bahwa Al-Ghazali dalam hidupnya telah menempuh berbagai jalan dan meneliti berbagai mazhab, yang mana ia juga berfungsi sebagai seorang yang ahli hukum Islam, teolog, filosof, dan sufistik.

C. Kritikan Al-Ghazali Terhadap Para Filosof
Al-Ghazali mempelajari filsafat selama dua tahun dengan cara auto debat (sendiri). Setelah ia paham lalu ia menuangkan pemahamannya ke dalam sebuah buku yang ia beri judul dengan maqasid falasifah (tujuan pemikiran para filososof). Dengan adanya buku ini mengindikasikan bahwa Al-Ghazali padam dan menguasai filsafat ini secara mendalam.
Sanggahannya yang ia lontarkan terhadap para filosof dalam bukunya yang terkenal Tarahut Al-Falasifah, kerancuanpemikiran para filosof (the incoherence of the pilosoper). Khususnya filsafat mengenai ketuhanan (metafisika). Dalam buku tahafut falasifah tersebut memandang para filosof sebagai filosof ahli bid’ah dalam bidang ketuhana, dalam dua puluh masalah. Tiga dari dua pluh masalah itu membuat filosof menjadi kafir, yaitu:
1.    Alam dan semua subtansi kadim
2.    Allah tidak mengetahui yang juz’iyah yang terjadi di alam
3.    Pembakitan jasmani tidak ada
Hal ini karena bertentangan dengan ajaran Rasulullah, dan bertentangan dengan pendapat umat Islam karena tak ada umat Islam yang berkeyakian seperti itu. Kongkritnya uraian Al-Ghazali tentang hal itu adalah :
1.    Masalah keqadiman alam
Pandangan filosof tentang keqadiman alam umumnya adalah wujud alam bersamaan dengan wujud Tuhan, keterdahuluan Tuhan dari alam hanya dari zat tidak dari alam hanya dari zat tidak dari segi zaman. Menurut Al-Ghazali, argument filosof tersebut tidak tepat karena Alllah memiliki sifat iradah dan qudrah dalam menciptakan alam ini. Qudrah dan iradah Tuhan ini saling berkaitan. Dan wujud Tuhan lebih dahulu dari zaman dan alam. Zaman baharu dan sebelum zaman di ciptakan tidak ada zaman. Oleh karena itu Allah dan alam tidak qadim keduanya, tapi Allah qadim dan alam baharu baik dari segi zaman.
Dan mengandaikan adanya zaman sebelum zaman hanyalah hayalan semata, yang diasumsikan ada. Padahal realitasnya tidak ada sama sekali. (paham Al-Ghazali inni di pengaruhi paham kekuasaan mutlak Tuhan).
2.    Allah tidak mengetahui juz’iah
Pendapat para filosof Tuhan hanya mengetahui zatnya dan tidak juz’iah. Ibnu Sina mengatakan Tuhan mengetahui segala sesuatu dengan ilmunya yang kulli. Alasanya adalah : karena alam ini mengalami perobahan terus, maka jika tuan  mengetahui perobahanya maka akan membawa pengaruh pada perobahan zatnya .Perobahan pada objek ilmu akan mengalami perobahan pada yang punya ilmu, (bertambah atau berkurang) dan itu mustahil bagi Allah.
Bantahan Al-Ghazali adalah:
Perubahan pada objek ilmu tidak membawa perobahan kepada ilmu,karena ilmu itu idhafah(suatu rangkaian hubungan dengaan zat). Jika ilmu berobah maka tidak membawa perobahan pada zat. Ilustrasi adalah jika orang berdiri di sebelah kanan kita   llu pindah kedepan, belakang dan kekiri maka yang berubah itu adalah  ia bukan anda. Begitupun  dengan Allah walau alam terus berobah, yang berubah itu adalah alam dan Allah semenjak  azali   
3.    kebangkitan jasmani di akhirat
Karena menurut filosof jasad ini setelah manusia meninggal akan hancur dan yang akan mengalami dan merasakan kelezatan itu hanya rohani saja. Adapun cerita syara’ yang berupa jasmani dan rohani hanyalah gambaran (alegori) untuk orang yang awam agar mudah memahami ayat Al-Qur’an.
Bantahan Al-Ghazali:
Dalam ayat-ayat Al-Qur’an telah tegas di bacakan bahwa pada berbangkit tersebut yang di bangkitkan Tuhan adalah jasad dan ruh secara bersamaan. Sesuai dengan firman Allah yang telah menjelaskan bahwa mengumpulkan tulang-belulang dan mengembalikan tubu manusia yang sudah hancur lebih mudah oleh Allah dari pada menciptakannya pertama kali.
Secara umum bertentangan paham Al-Ghazali ini dengan para filosof hanya pada titik pijak. Al-Ghazali sebagai filosof yang berpaham asy’ari aktif mengembangkan asy’arisme yang diwarnai oleh kehendak mutlak Tuhan. Dan titik pijak para filosof pada rasional yang lebih liberal dari Al-Ghazali. Karena keduanya sependapat bahwa di akhirat itu ada hari berbangkit.
Dan dalam buku Mungqis min Al-Dhalal, Al-Ghazali mengelompokkan filosof pada tiga kelompok:
Ø Filosof materialis (dahriyun), mereka yang menyangkal adanya Tuhan dan kosmos ini menurut mereka ada dengan sendirinya.
Ø Filosof naturalis (thabi’iyunn), mereka yang mengadakan penelitian di alam ini dalam berbagai hal.
Ø Filosof ketuhanan (Illahiyun), mereka adalah filosof yunani, seperti Socrates, plato dan Aristoteles, tapi mereka pun tak bisa terlepas dari pengaruuh kekafiran filsafat sebelumnya, yaitu filsafat naturalis dan materialis. Termasuk Al-Farabi dan Ibnu Sina yang menyebarkan ajaran ini di kalangan umat Islam.
Oleh karenanya filsafat Al-Farabi dan Ibnu Sina ada tiga tiga kategori:
Ø Filsafat yang bisa di terima
Ø Ailsafat yang di pandang bid’ah
Ø Filsafatnya yang harus di pandang kafir
4.  Hukum sebab akibat dan mu’jizat
Dalam buku tahafut falasifahnya kita bisa jumpai hukum sebab akibat dan mu’jizat diartikan sebagai hal yang menyimpang dari kebiasaan ( khariq al-Adat ).
Sebernarnya alqhazali tidak mengingkari hubungan antara sebab dengan akibat, tetapi menurutnya hubungan keduanya tidak bersifat dharuri. Masing- masingnya mempunyai indifidualitas tersendiri. Contoh : antara makan dengan kenyang tidak terdapat hubungan dharuri, sebab makan tidak mesti menyebabkan orang kenyang. Begitupun dengan yang lainnaya kertas tidak mesti terbakar oleh api, dan air tidak mesti membasahi karena semua itu hanyalah adapt kebiasaan dan bukan kemastian.
            Oleh sebab itu mu’jizat yang dimiliki oleh setiap para nabi, seperti api yang tidak membakar nabi Ibrahim, alqhazali tidak terdapat dengan pendapat filosof yang menganggap hilangnya sifat membakar pada api atau ibrahim beruba menjadi suatu zat yang tidak terbakar oleh api.
            Menurut Al-Ghazali api tidak membakar tubuh nabi Ibrahim kerena api memang bukan pembuat terbakar. Karna yang membuat terbakar itu adalah Allah SWT dengan qudrah dan satu radahnya. Karena jika Allah menghendaki Allah bisa merobah kambing seekor harimau. Bagitupun dengan kasus-kasus mu’jizat para nabi yang lain, seperti isya, yang menghidupkan orang mati, musa yang berobahnya tongkatnya menjadi ular dan lain-lainnya.
            Pada intinya mereka mempunyai kenyakinan yang sama terhadap mu’jizat ( kharikul adat ) pada nabi ini, namun perbedaannya tersebut hanyalah pada kaitan peristiwa tersebut, menurut alghazali semuanya tidak terlepas dari gudrah dan iradah tuhan sedangkan menurut filosof masih ad hubungannya dengan hubungan sebab akibat (hukum alam “natural low”).
5.   Perkembangan filsafat di timur Al-Ghazali.
Perkembangan filsafat di dunia timur paska Al-Ghazali mengalami kemunduran, apalagi dengan label kafir yang direkatkan alghazali terhadp filosof dalam tiga masalah diatas sehingga banyak para ulama mengeluarkan fatwa-fatwa keras terhadap filsafat seperti yang dilakukan oleh Ibnu Shaleh. Dan banyak juga buku-buku filsafat setelahnya mengambing hitamkan alghazali penyebab kemunduran umat ini.
Dr. Syafi’i Ma’arif berpendapat bahwa mengambing hitamkan alghazali bagi kemerotan filsafat adalah tindakan yang bodoh dan tidak cerdas serta menzholimi Al-Ghazali. Menurut Dr. Harun Nasution, kemunduran filsafat didunia islam sunni adalah karena ajaran tasa’uf sedang berkembang yang mana mereka lebih mengutamakan daya rasa yang berpusat dikalbu dan meninggalkan logika. Dan filsafat di dunia syi’ah masih tetap berjalan karena teologinya mu’tazilah.
   


Senin, 09 April 2012

Professional dan kompetensi guru


Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana dalam membentuk kepribadian, mengembangkan potensi dan budaya serta menciptakan suasan belajar. Pendidikan bertujuan membentuk seseorang kearah yang lebih baik.

Professional berasal dari kata profesi, yaitu pekerjaan yang mensyaratkan adanya pelatihan penguasaan pengetahuan tertentu dan biasanya memiliki asosiasi profesi, kode etik dan proses sertifikasi serta izin atau lisensi resmi.
Guru Professional adalah guru yang memiliki seperangkat kompetensi pengetahuan keterampilan dan perilaku yang harus dimiliki dan dihayati.
UU 14 2005 tentang Guru dan Dosen BAB IV Pasal 10 ayat 91: Kompetensi guru meliputi :
1.     Kompetensi pedagogic, kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik atau siswa yang meliputi pemahaman terhadap siswa, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran evaluasi hasil belajar dan pengembangan siswa dalam menggali potensi yang dimilikinya.
2.     kompetensi kepribadian, kemampuan yang mantap, stabil, dewasa, berwibawa dan menjadi teladan bagi siswa.
3.     kompetensi social, kemampuan mengarahakan siswa dalam hidup bermasyarakat
4.     kompetensi professional yang diperoleh melalui pendidikan profesi, kemampuan penguasan materi pelajaran.
Kompetensi Guru adalah seperangkat peguasaan kemampuan yang harus ada dalam diri guru agar dapat mewujudkan kinerjanya secara tepat dan efektif. Dengan kata lain, kompetnsi adalah kemampuan atau kecakapan yang dimiliki seseorang hingga ia mempunyai wewenang untk melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan  yang dimilikinya.
Kompetensi itu melitputi:
1.     Kompetensi intelektual, kemampuan perangkat pengetahuan yang diperlukan dala menunjang berbagai aspek kinerja sebagai guru
2.     Kompetensi pelayanan, kemampuan yang harus dimiliki seorang guru berkaitan dengna pemberia layanan kepada peserta didik.
3.     Kompetensi pribadi, kemampuan yang harus dimiiki seorang guru berkaitan dengan sikap dan tingkah laku seorang guru.
4.     Kompetensi social, kemampuan interaksi sosial secara efektif


Peranan Guru dalam pembelajaran
§   Peranan Utama Guru adalah membrikan pengetahuan (kognitif), sikap dan nilai (afektif) dan keterampilan (psikomotor) kepda peserta didik.
§   Peranan Guru Di Sekolah membimbing proses belajar mengajar utu mencapai tujuan pendidikan, dengan kata lain guru bukn hanya mengajar tapi juga harus mendidik peserta didik untuk menjadi orang dewasa
§   Peran lain guru antara lain:
a.     Guru sbg sumber belajar
b.     Guru sebagai fasilitator
c.     Guru sebagai pengelola
d.     Guru sebagai demonstrator
e.     Guru sebagai pembimbing
f.      Guru sebagai motivator
g.     Guru sebagai evaluator,
§   Pendidik adalah orang dewasa yang memiliki kemampuan untukmengembangkan potensi peserta didik.

Strategi pembelajaran adalh siasat guru dalam mengefektifkan, mengefisienkan serta mengoptimalkan fungsi dan interaksi antara siswa dengan komponen pembelajaran dalam suatu kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pengajaran.
Dalam strategi terdapat metode (cara).
Jenis srategi pembelajaran antara lain, StrPmebeljaran Ekspository (SPE), strategi pembelajaran Inkuiri, strategi pembelajaran Kooperatif, strategi pembelajaran berbasis masalah.
Metode adalah cara yag digunakan pendidik dalam mencapai tujuanpendidikan
Pendekatan adalah titik tolak terhadap proses pembelajaran
Pendekatan > Strategi > Metode
Prinsip Evaluasi
Evaluasi adalah kegiatan menilai sesuatu secara terencana, sistematik danberdasarkan tujuan yang jelas.
Prinsip evaluasi:
1.     Prinsip umum
-       Validasi -> kesesuaian alat ukurdengan fungsi pengukuran dan sasaran pengukuran
-       Berorientasi pada kompetisi, memeiliki pencapaian kompetensi peserta didik.
-       Berkelanjutan =
-       Menyeluruh = dilakukan di semua aspek kpribadian peserta didik
-       Efisiensi = dilaksanakan secara cermat dan tepat sasaran
-       Reabilitas = sesuai dengan tingkat kemampuan

2.     Prinsip khusus
-       Jenis penilaina ynag digunakan yang memunginkan adanay kesempatan terbaik dan maksimal bagi peserta didik dalam menunjukkan kemamapuan hasil belajar mereka
-       Setiap guru harus bisa melaksanakan prosedur penilaian dan pencatatan secara tepat prestasi dan kemampuan serta hasil belajar yang dicapai peserta didik.

Kode Etik Guru
1.     Mengamalkan nilai2 pancasila
2.     Memiliki kejujuran professional
3.     Berkomunikasi baik dengna anak didik
4.     Memelihara hubungan baik dengan warga
5.     Meningkatkan mutu profesi
6.     Membina hubungan baik sesame guru
7.     Membina organisasi guru yang profesional

Selasa, 03 April 2012

Kurikulum dalam perspektif Pendidikan Islam

Makalah ini membahas tentang bagaimana kurikulum dalam perspektif pendidikan islam..
untuk mendownload makalah ini silahkan ikuti link di bawah ini.. semoga bermanfaat..

Download Makalah Kurikulum dalam perspektif pendidikan islam

Stratifikasi Sosial

Stratifikasi Sosial Pengertian Stratifikasi Sosial Kata Stratifikasi berasal dari bahasa latin, Stratum;  yang berarti tingkatan dan ...